27 Juli 2012

Aji Saka & Dua Hamba Setia

Cerita Rakyat lagi, yang ini dari Jawa Tengah



Judul  :  Aji Saka  dan Dua Hamba Setia
Penulis : Ferdianto  A.J
Tebal   : 56 hal.
Penerbit : Pionir Jaya Bandung
My rating : 3 of 5 Stars



Mungkin sudah banyak yang tahu atau mendengar tentang huruf Jawa carakan/Hanacaraka , tapi bagaimana asal mula terjadinya huruf itu ? inilah kisahnya.....

Alkisah dahulu kala  ada seorang raja yang arif bijaksana dan senang mengembara bernama Aji Saka . Sang raja senang berkelana sambil menyebarkan ajaran  serta pengetahuan kepada orang-orang yang ditemuinya.  Aji Saka selalu ditemani oleh dua orang hambanya, dua orang pendekar  yang sangat disayangi  karena kesetiaannya. Mereka mempunyai kepandaian dan kesaktian yang seimbang. Yang pertama  yang lebih pendek  tubuhnya tegap dan sembada oleh karena itu oleh sang Aji diberi nama Sembada. Sedang yang seorang lagi bertubuh kecil tapi kekar bernama Dora (tenpa..emon hehe).

Pada suatu perjalanan pengembaraannya mereka sampai di daerah pegunungan Kendeng,  tujuan mereka adalah negara Medang karena Aji Saka mendengar di daerah itu tanahnya subur tetapi penduduknya  masih belum mengerti ajaran budi pekerti dan sang Aji  tertarik untuk tinggal di sana sambil memberi pelajaran untuk rakyatnya.
Sementara perjalanan masih jauh Aji Saka memerintahkan agar Sembada tinggal dulu di daerah Kendeng ini untuk ber huma (membuat ladang) dan mendirikan pondok , sedang Sang Aji akan melanjutkan perjalanan ditemani Dora.
Sebelum meninggalkan Sembada, Aji Saka menitipkan keris pusakanya dengan wasiat tidak boleh ada yang mengambil keris itu selain  dirinya.

Sesampainya di Medang mereka menjumpai keadaan yang sangat sunyi tidak terdengan celotehan anak kecil atau tangisan bayi. Ketika bertemu seorang penduduk diceritakan bahwa penduduk banyak yang bersembunyi ketakutan karena  ulah Prabu Medang yang memerintah di sana. Raja Medang sangat sakti tapi  mempunyai kebiasaan yang menakutkan yaitu makan bayi, apabila bayi-bayi sudah tidak ada maka anak-anak kecil yang jadi sasaran untuk disantap. Setiap hari ada Patih atau tentara kerajaan yang berpatroli untuk mencari santapan raja. Ketika Patih lewat Aji Saka menghampiri dan meminta menghadap raja . Aji Saka berbincang dengan sang patih yang sebenarnya tidak suka dengan rajanya. Aji bertaruh akan mengalahkan raja Medang dengan taruhan sang patih harus mengisi penuh destarnya (penutup kepala)dengan apa saja kalau dia bisa mengalahkan rajanya.. Karena hanya selembar destar Patih menyetujuinya. Singkat kata dengan kesaktian dan tipu daya Aji  Saka dapat membunuh raja Medang.
Ketika sang Patih membentangkan destar Aji Saka ternyata destar yang mula-mula hanya selebar penutup meja lama kelamaan membentang meluas meliputi selutruh negeri. Seluruh rakyat malah menyambutnya dengan gembira dan mengangkat Aji Saka sebagai rajanya.

Suatu hari Aji saka memanggil Dora yang telah diangkat menjadi Perdana Mentri. Aji Saka mengutus Dora untuk menemui Sembada menceritakan semua yang telah mereka alami dan meminta kerisnya karena dia memerlukannya.

Pertemuan Sembada dengan Dora sangat menggembirakan sekaligus mengharukan karena mereka telah lama tidak berjumpa . Setelah melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing Dora mengemukakan perintah sang Aji untuk mengambil keris pusaka . Sembada termenung dia ingat akan wasiat Aji Saka dulu agar dia tidak memberikan keris kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka.  Terjadilah perselisihan diantara mereka, masing-masing dengan pendiriannya melaksanakan apa yang dititahkan oleh rajanya. Akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka, karena sama-sama sakti , keduanya cedera dan pada saat yang bersamaan mereka menghembuskan nafas yang terakhir.

Aji Saka memperoleh firasat yang buruk karena terlalu lama menunggu , ia  merasa khawatir atas keselamatan abdi-abdinya. Akhirnya ia pergi ke pegunungan Kendeng. Sesampainya di sana  Ia terkejut ketika melihat kedua mayat abdinya dengan keris masih terselip di pinggang Sembada.
Akhirnya setelah merenung dia dapat mengambil kesimpulan bahwa keduanya berkelahi akibat kesalahan dirinya. Aji saka sangat menyesali kejadian tersebut.

Untuk menghormati, mengenang dan mengabadikan kedua abdi setianya itu, Prabu Aji Saka kemudian menciptakan syair/seloka yang dituliskan pada batu nisan kedua abdi tersebut :

“Ha-Na-Ca-Ra-Ka,  Da-Ta –Sa-Wa-La,  Pa-Da-Ja-Ya-Nya,  Ma-Ga-ba-Ta-Nga.” Yang artinya : “Ada dua utusa, mereka bertempur, sama-sama kuatnya, maka akhirnya sama-sama binasa”.

Kelak tulisan ini dikenal sebagai asal usul huruf Jawa yang disebut   CARAKAN  atau di Jawa Barat disebut HANACARAKA.

2 komentar:

  1. sayang jaman dulu nggak ada henpon jadi ga bisa konfirmasi dulu ke ajisaka benar ga perintahnya, ya....j/k..

    wah, lama ngga dengar folklore ini, bagus buat dongeng anak2...^^nice

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kita gak sanggup hidup jaman dulu ya :))

      Hapus