16 April 2017

drama MANGIR

Judul              : drama MANGIR
Penulis           : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit         : KPG  ( Kepustakaan Populer Gramedia )
ISBN             : 9789799109262
Jumlah hal.     : 141 hal.
My Rating      : 3 of 5 stars


Kebiasaanku membaca kata pengantar sebelum membaca isinya ternyata sangat berguna untuk membaca buku ini. Karena tanpa membaca kata pengantarnya... percaya deh cerita ini bisa membingungkan, cara berceritanya lain dari novel biasanya,yakni menggunakan cara pentas panggung, tidak ada narasi selain dialog, jadi agak susah mencerna cerita utuhnya.

Cerita ini berkisah tentang Mataram setelah kejatuhan kerajaan Majapahit tahun 1527. Banyak bekas wilayah Majapahit bangkit dan memisahkan diri sehingga terjadi kekacauan. Salah satunya Mataram di bawah Panembahan Senapati, putra ki Ageng Pamanahan seorang ahli perang, tokoh pendiri Mataram.
Panembahan Senapati berkeinginan menjadi penguasa tunggal di Mataram, dia menaklukan desa/perdikan disekitarnya, salah satunya yg mengadakan perlawanan adalah Perdikan (daerah otonomi)  Mangir di bawah kepemimpinan Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemuda gagah berusia 23 tahun.
Wanabaya di bantu oleh Baru Klinting dan para pemuka desa melakukan perlawanan sengit yang merepotkan Mataram. Panembahan Senapati bersama Tumenggung Mandrakara penasihat perangnya, mengubah taktik dengan memanfaatkan putri Pembayun, putri sulung panembahan Senapati yang cantik menawan, ia menyamar sebagai penari tandak untuk menggoda Wanabaya. Wanabaya terjebak rayuan sang putri dan menikahinya. Akhirnya dengan tipu muslihat Wanabaya terbunuh dengan cara mengenaskan..
Lho kok spoiler  diceritain  Wanabaya meninggal...bisa iya bisa tidak, soalnya sejak dari narasi di kata pemgantarnya sudah dikatakan bahwa  Ki Ageng Mangir Wanabaya ini  gugur berikut bagaimana cara dia menemui ajalnya. jadi pembaca sudah mengetahui dari awal bahwa kematian Wanabaya akan terjadi. Walapun ternyata ada kejutan juga karena cara meninggalnya tidak sama dengan yang diceritakan di awal.
Jadi apa yg menarik? Sila baca sendiri...:)

Semula aku kurang yakin akan bisa lancar membaca buku ini, karena gaya bercerita yang berupa dialog panggung, minim  narasi dan tidak ada pennggambaran suasana dan aura secara detail, semuanya harus kita rasakan dan bayangkan dari kuatnya bahasa dialog. Mungkin disinilah  kekuatan Pram,walaupun tidak memakai bahasa kekinian tapi aku dapat menangkap maksud cerita dan membayangkan suasananya. Aku menyukainya atau mungkin juga  karena sebagai penyuka sejarah jadi bidsa menikmatinya, di sini  aku mendapatkan pencerahan baru dari sejarah yang pernah diajarkan di sekolah.
Ternyata aku bisa menikmatinya.

"Bila berbahagia ingatlah pada maut yang semakin dekat. Bila hadapi mati hendaknya orang menghitung semua kebahagiaan yang sudah terlewati."  ( hal. 51).






25 Maret 2017

The Pelican Brief

Judul             : The Pelican Brief
Judul asli      : The Pelican Brief
Pengarang    : John Grisham
Penerjemah  : Hidayat Saleh
Jumlah hal    : 618 hal.
ISBN           : 979222888X
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
My rating      :  4  of  5  stars


Berawal dari kematian dua orang hakim agung Amerika yaitu, Abraham Rosenberg hakim senior yang sudah tua dan sakit-sakitan tapi karena ini adalah jabatan seumur hidup maka dia tidak dapat diberhentikan; dan hakim Jensen hakim termuda diantara 9 hakim agung, kemudian diketahui dia adalah seorang gay, mereka berdua dibunuh secara keji. Pembunuhannya sangat rapi tidak ada jejak dan tanda yang ditinggalkan si pembunuh, ini menandakan pembunuhnya seorang profesional.  Apakah seorang pembunuh bayaran?
Presiden beserta  Flether Coal kepala stafnya yang sangat pintar dan berkuasa, memerintahkan FBI dan CIA untuk menyelidiknya.

09 Februari 2017

Selasa Bersama Morrie

Judul buku    : Selasa Bersama Morrie
Judul asli        : Tuesday With Morrie
Penulis           : Mitch Albom
Penerjemah   : Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah hal     : 209  hal.
ISBN            : 9786020334758
Rating            : 4 of 5 stars



Sudah lama saya berminat untuk  membaca buku ini, menurut pengamatan saya buku ini termasuk kategori buku 'abadi' banyak diulas dan diminati pembaca. Tanpa disangka awal tahun saya dapat hadiah buku ini senang sekali... pasti.

 " Hidup ini merupakan rangkaian peristiwa menarik dan mengulur. Suatu saat kita ingin mengerjakan satu hal, padahal kita,perlu mengerjakan seduatu yang lain...." (42).

Apakah kamu punya seorang guru yang sangat mengesankan, guru yang tidak hanya mengajar tapi membangkitkan semangat dan menginspirasi?  Mitch Albom punya.   Ya ia mempunyai  Morrie Schwartz, seorang maha guru yang pernah menjadi dosennya. Morrie bukan hanya menjadi guru biasa ketika mengajar tapi juga menjadi teman dan pembimbing yang menginspirasi,.. dan ternyata bukan hanya ketika dia menjadi mahasiswa tapi juga bertahun kemudian ketika mereka bersua kembali.  Morrie memberinya pelajaran tentang kehidupan.

Mitch mengenal Morrie sejak hari pertama kuliah, pada musim semi 1976.  Morrie memanggilnya dengan panggilan akrab -Mitch-, sedangkan  Mitch memanggil Morrie dengan sebutan -Coach-. Hubungan mereka sangat dekat. Kesukaan Morrie terhadap buku menular pada Mitch, mereka sering membicarakan buku- buku kesukaan Morrie atau pergi makan bersama di kafetaria. Ketika Mitch lulus kuliah pada penghujung musim semi 1979 dari Brandeis Unibersity di.Walthamm,  Massachusset,.mereka berpelukan dan Mitch berjanji untuk tetap saling berhubungan.
Tapi karena kesibukan, Mitch seakan lupa pada janjinya, sampa 16 tahun kemudian ia mendengar kabar tentang Morrie, kabar yang kurang menggembirakan, Morrie divonis menderita penyakit ALS (Amyotrophic lateral sclerosis)-sebuah penyakit ganas, yang menyerang sistem saraf, penyakit ini akan memggerogoti badan dan sistem sarafnya. Morrie tidak berkecil hati walau ajal akan segera menjemputnya., dia ingin  proses kematiannya menjadi proyeknya yang terakhir, dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai objek penelitian.

Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.  (11 )

Mitch menemui Morrie, kedatangan Mitch seakan memberi semangat baru bagi Morrrie yg saat itu telah lemah dan duduk di kursi roda, kemudian mereka berjanji untuk bertemu setiap hari selasa..
Sejak saat itu setiap hari Selasa Mitch menempuh perjalanan jauh untuk menemui Morrie, dia menjadi saksi perkembangan penyakit Morrie dengan semakin melemahnya Morrie, .ikut menemani Morrie untuk shooting  acara TV yang membahas tentang keadaan Morrie. Setiap pertemuan dirasa sangat berharga bagi Mitch banyak ucapan dan perilaku Morrie yang menjadi pelajaran berharga bagi dirinya. Bagi Morrie keadaan sekarat bukan berarti tidak berguna. Morrie mengajarinya tentang :
- Dunia,
- Mengasihi diri sendiri,
-  Penyesalan diri,
- Kematian,
- Keluarga,
- Emosi,
- Ketakutan menjadi tua,

"Jika kalian terus berusaha melawan proses penuaan, kalian akan selalu merasa tidak bahagia, karena bagaimnapun itu akan terjadi." ( hal. 126 )

- Uang,
- Cinta yang tak padam,
- Perkawinan,
- Budaya,
- Maaf,
"Maafkan dirimu sendiri sebelum kau mati. Baru kemudian memaafkan orang lain."  ( hal. 175 )

- Hari yang paling baik..
- Terakhir saling mengucapkan perpisahan.


Bagi Mitch, Morrie adalah guru yang selalu ada dalam hatinya, kuliah-kuliahnya yang terakhir yakni setiap hari Selasa, di rumah Morrie , di dekat jendela sambil memandangi bunga-bunga adalah kuliah yangsangat berkesan, tanpa buku tanpa tugas yang harus dinilai tapi mengajarkannya makna hidup  yang diajarkan melalui pengalaman.

"Artinya, Kuliah ini tak akan pernah berakhir." ( hal. 207 )

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita  penuh dengan pelajaran tentang kehidupan. Mitch bercerita dengan gaya maju mundur dari masa-masa kuliah resmi berikut suasana pertemanan dengan Morrie, diselang seling dengan masa "kuliah" setiap hari Selasa bersama Morrie berikut perkembangan kesehatan dan hubungan pribadi yang semakin mendekatkan perasaannya pada Morrie. Mengalir dengan lancar tanpa kita harus membuka-buka halaman sebelumnya untuk mengingatkan sesuatu.

 "Setiap orang tahu mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya bahwa itu bisa terjadi pada mereka dalam waktu dekat."  ( hal. 85 )



Name in a book