24 Januari 2016

Lingkar Tanah Lingkar Air


Judul           : Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis        : Ahmad Tohari
Editor          : Eka Pudjawati
Jumlah Hal  : 165 hal.
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
ISBN            : 9786020318608
My Rating    : 4 of 5 Stars



Amid, Jun, Kiram seperti halnya pemuda-pemuda kampung lainnya ikut dalam kancah pergolakan paska kemerdekaan  1946 - 1950, ketika itu  mereka tergabung di bawah panji Hizbullah bersama-sama dengan pasukan  Republik ( pasukan resmi pemerintah Indonesia ),  mereka melawan Belanda. Amid mempunyai keinginan setelah perang usai  ingin bergabung dengan  tentara Republik.
Tetapi setelah Belanda pergi kenyataan lain dari keinginan, karena  teman-temannya menolak bergabung dengan tentara Republik , ketika ia berkonsultasi dengan Kiai Ngumar, beliau memberi nasihat yang membuat Amid ragu mengikuti teman-temannya.

"Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya.Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan  apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, tak pula berhak menghukumnya.........." ( Hal. 54 


Itulah kalimat yang diucapkan Kiai Ngumar kepada Amid, ketika mengetahui kang Suyud -yang dituakan mereka-  tidak mau bergabung dengan tentara Republik karena  di sana ada beberapa orang yang tidak sembahyang.
Tapi karena situasi yang semakin membingungkan akhirnya Amid mengikuti teman-temannya untuk melakukan gerilya bergabung bersama laskar DI/TII  yang menentang pemerintah resmi, tidak terbayangkan sebelumnya, karena  kini mereka harus menghadapi tentara republik.
Merka bergerilya berpindah-pindah tempat menghindari kejaran tentara republik dan terkadang Amid bimbang ketika harus melawan para tentara republik yang seiman dengannya apalagi ketika dia menemukan kitab suci di saku celana orang yang telah ditembaknya. Kemudian dia harus membawa istrinya yang tengah hamil tua ke hutan belantara. Sampai akhirnya khalifah DI/TII tertangkap dan menyerukan pengikutnya untuk menyerah.
Takdir kemudian menentukan lain ketika beberapa tahun kemudian Amid, Jun dan Kiram berkesempatan membantu tentara republik  untuk menumpas pasukan komunis. Alangkah bangga nya Amid karena brperang bersama tentara resmi adalah dambaannya sejak dulu

"Aku masih bisa menangkap suara Kiai Ngumar yang baru saja diucapkannya. Aku juga masih ingat wejangan  yang dulu pernah diberikannya kepadaku : yaitu memerangi kekuatan yang merusak  ketentraman masyarakat hukumnya wajib." ( hal. 165 )


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ahmad Tohari seperti biasa berhasil menceritakan situasi kejiwaan tokoh dankepawaiannya  mendeskripsikan situasi dan kehidupan  pedesaan pada waktu itu.
Ikut merasakan keharuan dan kebanggaan Amid ketika keinginannya berada dalam pasukan tentara pemerintah terkabul.

".........., tetapi aku sendiri merasakan keharuan, yang terus mengembang  dan menyesakkan dada. Tenggorokanku terasa pepat. Dan aku merasa air mataku jatuh. Untung, dalam kegelapan malam tak mungkin ada orang melihat roma. mukaku." ( hal. 161 )

Suka dengan gaya bahasa Ahmad Tohari, sederahana tapi dalaam....:)






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar