27 Maret 2014

Derai - derai Cemara




Judul          : Dera-derai Cemara 
 Penulis      :  Chairil Anwar
Penerbit     : Horison
Tebal           : 132 hal.
ISBN            : 9799566002
My rating    :  4 of   5  stars


Sempat bingung ketika mengetahui untuk baca bareng BBI bulan ini salah satunya tentang Puisi, saya tidak piawai untuk mengapresiasi puisi. Jadi beruntung sekali ketika menemukan kembali buku ini, karena  selain memuat puisi-puisi juga memuat prosa-prosa karya Chairil Anwar, di samping itu pengantar dari  anaknya : Evawani Allisa Chairil Anwar dan kata pembuka dari Asrul Sani sangat mencerahkan untuk mengetahui karakter dan sejarah Chairil Anwar sebagai seorang seniman. Begitupun kata penutup dari Agus R Sarjono menambah pengetahuan tentang puisi dan bagaimana Chairil bisa menjadi legenda dalam perpuisian di Indonesia.Sketsa yang bernada muram oleh Herry Dim, serta lukisan cover yang unik dari Jeihan Sukmantoro, menambah nilai bagi buku ini.

Derai-derai Cemara diterbitkan pertamakali kali tahun 1999 untuk mengenang setengah abad wafatnya Chairil Anwar, yang meninggal pada tanggal 28 april 1949 ( 1922 -1949 ).

- Dimulai dengan  kata pengantar dari anaknya Evawani Allisa Chairil Anwar  :Kenangan Menderai sampai Jauh   Chairil Anwar meninggal ketika Eva masih berumur 10 bulan. Pertamakali mengetahui bahwa Chairil Anwar adalah ayahnya ketika kelas 3 SR (Sekolah rakyat) thn. 1955, gurunyalah yang memberitahu sambil menunjukkan buku H.B. Yasin  yang di dalamnya selain memuat foto Ch.A  juga ada foto dirinya, tapi ibunya membantah. Baru ketika duduk di kelas 5 dia deberitahu yang sebenarnya.  Rupanya keluarga sebelumnya tidak memberitahukan mengenai hal ini karena menjaga perasaannya yang masih kecil, tidak ingin memberi trauma punya ayah tiri, karena saat itu dia  telah mempunyai ayah tiri yang baik pak Achmad Natakusumah.

-Kata Pembuka dari Asrul Sani : Suatu Sore Gerimis di Bogor, 28 april 1949  Pertama kali mendengar kabar kematian Ch.A. saat Asrul tinggal di Bogor

Asrul berteman dengan Ch.A. sejak masih belia, pertemuan pertama waktu masih zaman Jepang  di sebuah toko buku bekas d Pasar Senen.  Mereka bersama-sama berkembang dalam dunia kepenyairan . Asrul menceritakan proses dan  alasan pembuatan sajak AKU yang legendaris dan sajak Diponegoro yang menurutnya jauh di bawah ukuran sajak-sajaknya yang lain.
Mereka berdua saling mempengaruhi,  tidak jarang karena masalah puisi  mereka bertengkar hebat, tapi tidak lama selalu berbaikan lagi bahkan menjadikan mereka semakin akrab (hal.xvi). Pada waktu itulah bersama Rivai Apin mereka bertiga  melahirkan kumpulan puisi yang melegendaris Tiga MenguakTakdir, sayang ketika buku ini diterbitkan Balai Pustaka 1950, Chairil Anwar  telah tiada. Mereka  bertiga lah pelopor Angkatan '45.

- Karya-karya Chairil Anwar
1. Sajak-sajak 1942 - 1949
 Beberapa sajaknya yang terkenal :


 Menurut Asrul Sani sajak AKU ( dibuat Maret1943 )yang selalu dibawakan berapi-api dengan kepalan tertinju, bukanlah sajak pemberontakan, tapi sebuah pamitan yang getir dari ayahnya  yang mencoba membujuk dia untuk kembali ke Medan tinggal bersama ayahnya. ia menolak dan memilih kehidupan  yang jauh dari berkecukupan. (hal. xiii),






Sajak Cintaku jauh di Pulau dibuat thn. 1946. Pernah diangkat ke layar lebar dan dibuat musikalisasinya.




  Sajak Doa yang syahdu ini dibuat  tanggal 13 November 1943


 Derai-derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
          aku sekarang orangnya bisa tahan
          sudah berapa waktu bukan kanak lagi
          tapi dulu memang ada suatu bahan
          yang bukan dasar perhitungan kini
                   hidup hanya menunda kekalahan
                   tambah terasing dari cinta sekolah rendah
                   dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
                   sebelum ada akhirnya kita menyerah        - ( 1949 )



2- sajak-sajak saduran : 2 buah sajak saduran yaitu  "Keapada Peminta-minta, dan  "Kerawang-Bekasi" yang termasuk sajak yang terkenal dan diperkenalkan  disekolah-sekolah

3-  Prosa 1943 - 1949
 Tadinya saya berharap bisa 'mengerti' prosa-prosa yang ditulis oleh Chairil Anwar ini tapi ternyata bahasa nya terlalu tinggi buat saya, jujur  kurang bisa memaknai mungkin karena ketidakmengertian saya.

- Kata penutup dari Agus R Sarjono: Chairil  Menderai Sampai Jauh
Agus mengajak kita untuk menilik kehadiran Chairil di tengah jamannya, tentu dia bukan tumbuh di ruang kosong .- Chairil tumbuh di masa 'revolusioner' masa peralihan dari yang terjajah menjadi merdeka. -saat itupun tumbuh berbagai pemikirian dan ideologi.- Dia tumbuh  dalam sebuah komunitas diskursif modernitas awal yang menolak ketentraman lama.  Tapi sastrawan yang menulis pada zaman itu bukan hanya Ch.A,  namun mengapa diantara banyak nama justru Ch.A. yang mengemuka. Jadi pasti ada sebab lain.
Pada dasarnya karya  sastra terbagi dua :
1. Sastra Mimbar : Merupakan karya sastra yang bertema zamannya dengan cara menghadirkan tokoh hero (Prosa) atau akupublik (dalam Puisi ) dalam upaya memberi jawaban  atau tanggapan bagi tema-tema yang bersangkutan. Mendapatkan kepenuhan maknanya jika ditulis dan dibaca  dalam kesadaran akan kebersamaan  dengan banyak orang.   Jadi berkehendak pada sosialisasi
 2. Sastra Kamar :menggarap tema-tema keseharian, tokoh-tokohnya diambil dari sosok yang ada sehari-hari.memiliki alur yang cair.  Mendapat kepenuhan maknanya jika ditulis dan dibaca  dalam kesadaran akan kesendirian..Berkehendak pada individulisaasi.
Agus mengibaratkan : Sastra Mimbar seperti shalat akbar, shalat Ied atau shala Istisqo, yang mendapat kepenuhan makna ketika kita sadar bahwa kita tengah bersama banyak orang. Sedang Sasta Kamar ibarat  shalat Istikharah atau tahajud yang mendapat maknanya jika kita sadar bahwa kita tengah sendiri.
Nah..seandainya Ch.A. hanya  menuliskansajak yang bermutu tinggi namun berjenis sastra kamar, seperti : 'Senja di Pelabuhan Kecil', ' Derai-derai Cemara' atau 'Dalam Kereta', dipastikan bahwa namanya tidak akan sebesar sekarang. nama  Ch.A. nampaknya besar oleh karena  saja-sajaknya yang berjenis sastra Mimbar seperti : 'Aku,' 'Kerawang Bekasi', Perjanjian dengan Bung Karno', dll.
Sajak-sajak Ch.A.  yang berjenis Mimbar  menjadi andil besar bagi kehadirannya menjadi popler dan melegenda. Penyair generasi berikutnya yang populer dengan sastra Mimbar nya adalah W.S. Rendra..

Walaupun saya tidak pandai mengapresiasi puisi tapi saya bisa menikmati walaupun tidak paham  atau kenikmatan dalam ketidakpahaman (semoga kalimat ini tidak membuingungkan) dan anehnya saya lebih menyukai sasta kamarnya  :)


Riwayat
Chairil Anwar lahir di  Medan tgl. 26 Juli 1922, Ayahnya bernama Toeloes berasal dari 50 kota,Sumatra Barat  menjadi Bupati Indragiri kepilauan Riau. Ibunya Saleha berasal dari Kota Gadang, Sumatrera Barat. .Bersekolah Belanda dari HIS sampa tingkat MULO (setingkat sekolah menengah pertama)  ketika itu dia sudah menampakkan kecerdasan dan berbakat menulis. Ketika kelas dua hijrah ke Jakarta mengikuti ibunya sebagai protes terhadap ayahnya yang menikah dan bercerai dengan ibunya. Sebagai pelajar MULO,  Ch.A. menguasai 3 bahasa yaitu Belanda, Inggris dan Jerman. pada masa putus sekolah banyak mengisi waktunya dengan banyak membaca sastra dunia.. Ch.A. menikah dengan Hapsah Wiradiredja asal Sukabumi, Jawa Barat mempunyai seorang anak Evawani Alisa yang lahir 17 Juni 1948.
Semasa hidupnya Ch.A. telah mnerbitkan tiga kumpulan puisi yaitu, Deru campur Debu (1949 ), Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus ( 1949 ), Tiga Menguak Takdir (1950) bersama Asrul Sani dan Rivai Apin. Chairil Anwar meninggal tanggal 28 April 1949 ketikaberusia 26 tahun 9 bulan karena penyakit paru-paru. Seperti dalam salah satu bait puisinya d i Karet (daerahku y.a.d) , dia dikebumikan di pemakaman Karet, Jakarta

Chairil Anwar telah mampu mengilhami kita untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan estetika dalam bahasa Indonesia yang penuh tenaga (hal.120)



2 komentar:

  1. wow.. baca reviewmu seperti mengenang lagi pelajaran sastra/bi pas sekolah deh ceu :) kangen juga baca puisi model begini, sekarang kebanyakan puisi modern temanya lebih njelimet ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengenang masa sekolah ya, kl temanya njelimet tambah ga ngerti :)

      Hapus