Tampilkan postingan dengan label Folklore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Folklore. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2014

Si Kabayan


Judul Buku  :  Paradoks Cerita-Cerita Si Kabayan
Penulis          : Jakob Sumardjo
Tebal              :  154  hal.
Penerbit         : Yrama Widya
ISBN               : 9786022772057
My Rating     :  4 of 5 Stars

Si Kabayan adalah tokoh cerita  rakyat  Sunda ( Jawa Barat ). Hampir semua rakyat Jawa Barat pernah mendengar dongeng-dongengnya atau paling tidak pernah mendengar namanya.
Cerita si Kabayan biasanya bernuansa humor, seperti umumnya kebiasaan rakyat Jawa Barat yang humoris. Kabayan dikenal sebagai seorang yang berkarakter pintar-pintar bodoh, cerdik tapi tingkahnya yang sering menampakan kebodohan, kadang suka memperdaya orang dengan akal bulusnya. Mungkin bisa disamakan dengan Abunawas atau Nasaruddin Hoja
Buku ini bukan sekedar memuat cerita-cerita Si Kabayan tapi mengupas segala sesuatu dibalik cerita si Kabayan dari sisi awam maupun secara philosofis.

Buku ini bertolak dari tafsir bahwa cerita-cerita si Kabayan bukan cerita rakyat sederhana, tetapi mengandung paham tasawuf di belakangnya. (hal. iv)

Si Kabayan bukan hanya sosok konyol dan malas, tapi juga seorang yang cerdas, bijak, dan religius

Seperti seorang guru sufi cerita si Kabayan memberikan pencerahan bukan lewat kata-kata yang sudah dimengerti, tapi lewat perbuatan-perbuatan kecil dan sederhana, yang sifatnya jenaka, santai namun bermakna sangat dalam  (hal. viii)

Siapakah Si kabayan  ?

21 Maret 2013

Asal Usul Danau Toba

Asal Usul Danau Toba
Judul    :  Asal Usul Danau Toba
Penulis : Hanni Haerani
Penerbit : Citra Budaya Bandung
Tebal  :  39 hal.
My  Rating :  3 of 5 Stars


Senang sekali ketika menemukan buku ini, karena buku tentang legenda/cerita rakyat kebanyakan cerita dari daerah P. Jawa jadi ini termasuk buku legenda yang jarang ditemukan.
Danau Toba

Alkisah dahulu kala di sebuah dusun yang terletak di wilayah Sumatera Utara hiduplah seorang petani yang sebatang kara karena telah yatim piatu dan hidup dengan sangat bersahaja. Umurnya telah cukup dewasa tapi belum berumah tangga karena dia merasa belum mempunya bekal yang cukup.
" Ah, kau!  kecil sekali punya nyali, bah?  lihat si Poltak dan si Tigor. jangankan punya sawah seperti engkau, bekerja saja tidak becus. Tapi bukan saja sudah punya istri, anak pun sudah lebih dari satu!" goda temannya. Godaan temannya hanya diterima dengan senyum yang lirih.

Ketika musim paceklik tiba, banyak orang pergi merantau tapi si petani tidak mengikuti arus, tetap tinggal di kampungnya, makan dari daun yang ada di sekitar dan sering pergi memancing. Pada suatu hari keika memancing dia mendapatkan seekor ikan yang sisiknya berwarna indah emas kemerah-merahan, singkat kata ternyata ikan itu menjelma menjadi putri yang cantik dan bersedia diperistri asalkan  petani berjanji tidak akan mengatakan dirinya berasal dari ikan, karena bila hal itu terjadi akan menimbulkan malapetaka. 
Singkat cerita  mereka hidup sebagai sepasang suami istri, kehidupan perekonomian mereka pun membaik dan dikarunia seorang putra, sayang nya si putra ini kelakuannya agak malas dan manja dan rakus. Sering si petani merasa kesal dengan kelakuannya tapi dia dapat menahan amarah. Suatu hari si putra di suruh ibunya untuk mengantarkan makanan untuk ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Ayah nya menunggu sampai menjelang sore tapi tak kunjung datang akhirnya dengan lemas karena menahan lapar dia pulang sa,bil mencari anaknya, ketika ditemukan putra ternyata sedang bermain dan makanan untuk ayahnya telah habis dimakannya. Ketia ditanya dia menjawab tanpa rasa bersalah dan menyuruh ayahnya untuk makan di rumah saja.  Petani yang sedang menahan lapar tak kuasa menahan marah ditamparnya pipi si putra dengan keras sambil berteriak “ Anak kurang ajar ! Dasar anak turunan ikan, kau!” bentaknya dengan geramPutra menangis menjerit dan berlari pulang. Si Petani menyusul dengan amarah sambil terus menghamburkan ucapan yang sebenarnya tabu baginya.   Di depan rumah istrinya berdiri tegak , memandangnya dengan wajah yang sulit diartikan..kemudia mengatakan bahwa sudah saatnya mereka berpisah karena  sang petani telah melanggar janji. Padahal keberadaan anak mereka adalah untuk menguji kesetiaan janji petani tsb.
Petani sangat kaget dan berteriak agar hal itu tak terjadi, tapi tiba-tiba tubuhnya bergetar, menggigil kemudian istri serta putranya lenyap .
Dari bekas injakan kaki nya tiba-tiba menyemburlah air yang deras.Semakin besar dan semakin deras, sehingga akhirnya petani terendam  begitupun pohon dan benda lain disekitarnya.
Semua desa--desa disekitarnya pun ikut terendam. Akhirnya mewujudlah sebuah danau yang sangat indah dengan sebuah pulau kecil di tengahnya kemudian dikenal sebagai Danau Toba dan pulau kecil ditengahnya dikenal sebagai Pulau Samosir.

Begitulah sebuah versi cerita asal usul danau Toba, karena ada berbagai versi dengan sumber yang berbeda.  Dalam versi lain disebutkan bahwa Pulau Samosir adalah penjelmaan dari si Putra, anak dari petani dan si Putri.






27 Juli 2012

Aji Saka & Dua Hamba Setia

Cerita Rakyat lagi, yang ini dari Jawa Tengah



Judul  :  Aji Saka  dan Dua Hamba Setia
Penulis : Ferdianto  A.J
Tebal   : 56 hal.
Penerbit : Pionir Jaya Bandung
My rating : 3 of 5 Stars



Mungkin sudah banyak yang tahu atau mendengar tentang huruf Jawa carakan/Hanacaraka , tapi bagaimana asal mula terjadinya huruf itu ? inilah kisahnya.....

Alkisah dahulu kala  ada seorang raja yang arif bijaksana dan senang mengembara bernama Aji Saka . Sang raja senang berkelana sambil menyebarkan ajaran  serta pengetahuan kepada orang-orang yang ditemuinya.  Aji Saka selalu ditemani oleh dua orang hambanya, dua orang pendekar  yang sangat disayangi  karena kesetiaannya. Mereka mempunyai kepandaian dan kesaktian yang seimbang. Yang pertama  yang lebih pendek  tubuhnya tegap dan sembada oleh karena itu oleh sang Aji diberi nama Sembada. Sedang yang seorang lagi bertubuh kecil tapi kekar bernama Dora (tenpa..emon hehe).

Pada suatu perjalanan pengembaraannya mereka sampai di daerah pegunungan Kendeng,  tujuan mereka adalah negara Medang karena Aji Saka mendengar di daerah itu tanahnya subur tetapi penduduknya  masih belum mengerti ajaran budi pekerti dan sang Aji  tertarik untuk tinggal di sana sambil memberi pelajaran untuk rakyatnya.
Sementara perjalanan masih jauh Aji Saka memerintahkan agar Sembada tinggal dulu di daerah Kendeng ini untuk ber huma (membuat ladang) dan mendirikan pondok , sedang Sang Aji akan melanjutkan perjalanan ditemani Dora.
Sebelum meninggalkan Sembada, Aji Saka menitipkan keris pusakanya dengan wasiat tidak boleh ada yang mengambil keris itu selain  dirinya.

Sesampainya di Medang mereka menjumpai keadaan yang sangat sunyi tidak terdengan celotehan anak kecil atau tangisan bayi. Ketika bertemu seorang penduduk diceritakan bahwa penduduk banyak yang bersembunyi ketakutan karena  ulah Prabu Medang yang memerintah di sana. Raja Medang sangat sakti tapi  mempunyai kebiasaan yang menakutkan yaitu makan bayi, apabila bayi-bayi sudah tidak ada maka anak-anak kecil yang jadi sasaran untuk disantap. Setiap hari ada Patih atau tentara kerajaan yang berpatroli untuk mencari santapan raja. Ketika Patih lewat Aji Saka menghampiri dan meminta menghadap raja . Aji Saka berbincang dengan sang patih yang sebenarnya tidak suka dengan rajanya. Aji bertaruh akan mengalahkan raja Medang dengan taruhan sang patih harus mengisi penuh destarnya (penutup kepala)dengan apa saja kalau dia bisa mengalahkan rajanya.. Karena hanya selembar destar Patih menyetujuinya. Singkat kata dengan kesaktian dan tipu daya Aji  Saka dapat membunuh raja Medang.
Ketika sang Patih membentangkan destar Aji Saka ternyata destar yang mula-mula hanya selebar penutup meja lama kelamaan membentang meluas meliputi selutruh negeri. Seluruh rakyat malah menyambutnya dengan gembira dan mengangkat Aji Saka sebagai rajanya.

Suatu hari Aji saka memanggil Dora yang telah diangkat menjadi Perdana Mentri. Aji Saka mengutus Dora untuk menemui Sembada menceritakan semua yang telah mereka alami dan meminta kerisnya karena dia memerlukannya.

Pertemuan Sembada dengan Dora sangat menggembirakan sekaligus mengharukan karena mereka telah lama tidak berjumpa . Setelah melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing Dora mengemukakan perintah sang Aji untuk mengambil keris pusaka . Sembada termenung dia ingat akan wasiat Aji Saka dulu agar dia tidak memberikan keris kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka.  Terjadilah perselisihan diantara mereka, masing-masing dengan pendiriannya melaksanakan apa yang dititahkan oleh rajanya. Akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka, karena sama-sama sakti , keduanya cedera dan pada saat yang bersamaan mereka menghembuskan nafas yang terakhir.

Aji Saka memperoleh firasat yang buruk karena terlalu lama menunggu , ia  merasa khawatir atas keselamatan abdi-abdinya. Akhirnya ia pergi ke pegunungan Kendeng. Sesampainya di sana  Ia terkejut ketika melihat kedua mayat abdinya dengan keris masih terselip di pinggang Sembada.
Akhirnya setelah merenung dia dapat mengambil kesimpulan bahwa keduanya berkelahi akibat kesalahan dirinya. Aji saka sangat menyesali kejadian tersebut.

Untuk menghormati, mengenang dan mengabadikan kedua abdi setianya itu, Prabu Aji Saka kemudian menciptakan syair/seloka yang dituliskan pada batu nisan kedua abdi tersebut :

“Ha-Na-Ca-Ra-Ka,  Da-Ta –Sa-Wa-La,  Pa-Da-Ja-Ya-Nya,  Ma-Ga-ba-Ta-Nga.” Yang artinya : “Ada dua utusa, mereka bertempur, sama-sama kuatnya, maka akhirnya sama-sama binasa”.

Kelak tulisan ini dikenal sebagai asal usul huruf Jawa yang disebut   CARAKAN  atau di Jawa Barat disebut HANACARAKA.

05 Juli 2012

Cerita Rakyat Dari Madura

 Beberapa waktu yang lalu ketika mengunjungi perpustakaan, saya melihat deretan buku 'folklore', tiba-tiba saya rindu membaca kisah-kisah yang waktu  kecil pernah mendengar dongengnya atau membacanya lewat cerita bergambar.. Itulah sebabnya akhir-akhir ini saya banyak membaca buku-buku tentang cerita-cerita rakyat .Ternyata mengasyikan juga selain bernostalgia rupanya banyak juga  kisah-kisah yang dulu hanya mendengar selintas, atau bahkan belum pernah mengetahuinya sama sekali . Jadi..saya ingin berbagi dengan menuliskan beberapa  reviewnya  di sini.


 Cerita Rakyat Dari Madura...





Judul       :  Cerita Rakyat dari Madura
Penulis    :   D. Zawawi Imron
Penerbit  :  Gramedia Widiasarana  Indonesia
Tebal      :  50 hal.
ISBN     : 979532626
My Rating :  3  of  5  Stars







Buku ini memuat berbagai cerita rakyat dari Madura berupa kumpulan 9 cerita pendek, yang bisa dibagi dalam 3 jenis yaitu: 'Legenda' yang menceritakan asal usul nama sebuah tempat; dongeng yang mengandung petuah, dan 'fabel' tentang binatang yang bisa berbicara seperti manusia.

1. Legenda Asal Usul Nama Madura
2. Seorang Penyadap Nira
3. Para Pedagang Kucing
4. Legenda Jaka Tole
5. Persahabatan Empat Ekor Binatang
6. Pak Jalmo
7. Dua Ekor Kambing yang congkak
8. Pak Molla
9. Mencari Calon Putra Mahkota

Legenda Asal Usul Nama Madura

Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Gilingwesi yang memerintah kerajaan Medangkamulan di pegunungan Tengger, yang sedang resah karena Raden Ayu Tunjung Sekar, putrinya yang cantik jelita, tidak mau bersuami, walaupun banyak pangeran yang telah melamarnya.
Pada suatu malam sang putri bermimpi melihat bulan yang mendekat dan masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa lama setelah mimpi itu sang Putri hamil. Prabu Gilingwesi merasa terpukul dan malu mendapati putrinya hamil tanpa suami, lalu dia memerintahkan Patih Pranggulang membawa putri ke hutan untuk dibunuh di sana. Tapi ketika sang patih beberapa kali mengayunkan pedang ke tubuh putri selalu gagal, Patih menyimpulkan bahwa sang Putri tidak bersalah. Kemudian Patih menyuruh Putri naik rakit untuk menyebrangi laut, sedangkan Patih berjanji tidak akan kembali ke kraton dan akan bertapa di hutan dengan mengganti nama menjadi Ki Poleng. Rakit membawa Tunjung Sekar ke arah utara dan bergerak dipermainkan ombak. Pada suatu bulan purnama dia melahirkan seorang bayi laki-laki, karena dilahirkan di tengah laut maka diberi nama Raden Sagara. Menurut bahasa Madura, Sagara berarti laut. Ketika sampai di darat keajaiban terjadi Raden Sagara meloncat dan berlari-lari seperti anak berumur 2 tahun. Mereka menemukan sarang lebah di sebuah tanah lapang dan mereka menikmati madunya. Karena mereka menemukan madu di tanah lapang yang luas, tempat itu diberi nama Madura yang beasal dari kata maddu e ra-ra, artinya, madu di tanah dataran. Setelah dewasa, Raden Sagara naik takhta sebagai raja yang memerintah Pulau Madura.

----------------------


Cerita-cerita yang dimuat di buku ini bisa menambah wawasan dan mudah dicerna, cocok untuk semua umur karena disampaikan dengan gaya bahasa yang jelas dan sederhana, disetiap akhir cerita dibuat kesimpulan dan pesan moral dari penulisnya.